Harga Beras Turun, Inflasi DKI Maret 2018 Rendah

Tekanan harga di Provinsi DKI Jakarta pada bulan ketiga tahun 2018 kembali turun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, perkembangan harga-harga di Jakarta pada Maret 2018 membawa Jakarta mengalami inflasi yang cukup rendah sebesar 0,09% (mtm).
Feni Freycinetia Fitriani | 02 April 2018 19:50 WIB
Pekerja memikul karung beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (19/1). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Tekanan harga di Provinsi DKI Jakarta pada bulan ketiga 2018 kembali turun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, perkembangan harga-harga di Jakarta pada Maret 2018 membawa Jakarta mengalami inflasi yang cukup rendah sebesar 0,09% (mtm).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Trisno Nugroho menilai angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun sebelumnya, yang sebesar 0,13% (mtm), maupun dengan inflasi nasional (0,20% mtm). Dengan perkembangan ini, laju inflasi DKI Jakarta sejak awal tahun tercatat sebesar 0,89% (ytd).

Dia menilai lebih rendahnya inflasi pada Maret 2018 dibandingkan dengan bulan sebelumnya terutama disebabkan oleh deflasi kelompok bahan makanan.

"Harga beras turun cukup dalam sebesar 3,16% (mtm). Hal tersebut disebabkan oleh mulai meningkatnya jumlah pasokan ke Jakarta akibat panen di beberapa daerah sentra," katanya dalam siaran pers, Senin (2/4/2018).

Menurutnya, harga beras sangat berpengaruh terhadap pergerakan inflasi bahan makanan secara keseluruhan karena memiliki bobot yang cukup besar. Beberapa harga pangan utama lainnya yang terpantau turun adalah daging ayam ras (1,52% mtm) dan telur ayam ras (0,81% mtm).

Walau demikian, penurunan harga pangan sedikit tertahan oleh harga-harga komoditas hortikultura seperti bawang putih, cabai merah dan bawang merah yang naik masing-masing sebesar 8,24%, 6,98%, dan 5,28% (mtm), akibat berkurangnya pasokan.

"Berbagai perkembangan tersebut membawa kelompok pengeluaran bahan makanan mengalami deflasi sebesar 0,41% (mtm)," imbuhnya.

Turunnya inflasi Maret 2018 juga turut dikontribusikan oleh terkendalinya inflasi inti. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya permintaan masyarakat secara umum di ibukota, walau terdapat perayaan Hari Paskah pada akhir bulan Maret.
Beberapa pergerakan harga barang yang tergabung dalam kelompok inflasi inti juga terpantau bergerak relatif terbatas, seperti emas perhiasan (0,64% mtm) dan makanan jadi (0,15% mtm).

Sementara itu, kelompok administered prices menunjukkan sedikit peningkatan, sehingga menahan laju penurunan inflasi di Jakarta. Hal ini disebabkan oleh harga bensin yang naik sebesar 1,14% (mtm).

"Akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti pertalite dan kenaikan tarif angkutan udara [1,86% mtm], seiring meningkatnya permintaan terutama, pada hari libur atau long weekend akhir Maret," jelasnya.

Memerhatikan berbagai perkembangan harga di pasar serta bauran kebijakan pemerintah, inflasi pada April 2018 diprakirakan tetap terkendali.

Harga beras diprakirakan akan kembali turun seiring dengan jumlah pasokan yang kian meningkat. Kenaikan harga minyak internasional, yang diikuti dengan kenaikan harga BBM nonsubsidi diperkirakan tidak memberikan dampak signifikan terhadap inflasi secara keseluruhan.

"Berbagai kebijakan pemerintah dan perkembangan harga tersebut diperkirakan tetap mampu mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional tahun 2018. Dengan berbagai upaya tersebut diharapkan inflasi DKI Jakarta tahun 2018 dapat tetap terjaga dan mendukung capaian sasaran inflasi nasional sebesar 3,5% ± 1%," kata Trisno.

Tag : Inflasi
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top