Geliat Ekonomi Jakarta Setelah Ricuh 22 Mei

Berdasarkan data Kadin DKI Jakarta, jumlah kios di pusat perbelanjaan di Ibu Kota mencapai 80.000. Total perkiraan kerugian ditilik dari kerugian per kios yang mencapai Rp12,5 juta hingga Rp18,7 juta. Penurunan jumlah pengunjung mencapai 70%.
Geliat Ekonomi Jakarta Setelah Ricuh 22 Mei Muhamad Wildan | 25 Mei 2019 13:47 WIB
Geliat Ekonomi Jakarta Setelah Ricuh 22 Mei
Sejumlah warga melintas di jembatan penyeberangan multiguna (JPM) Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (23/5/2019). Sejumlah pedagang di JPM Tanah Abang kembali berjualan dan operasional stasiun KA setempat dibuka kembali setelah pada Selasa (22/5) ditutup karena kericuhan Aksi 22 Mei terjadi di kawasan tersebut. - ANTARA/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA – Kericuhan yang timbul akibat demonstrasi di sejumlah titik di Jakarta pada 21—22 Mei 2019, tidak hanya menyisakan rasa miris, tetapi juga mengakibatkan kerugian ekonomi yang mencapai Rp1,5 triliun karena lumpuhnya aktivitas perdagangan.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan bahwa nilai kerugian yang mencapai Rp1,5 triliun itu karena banyak pusat perbelanjaan besar dan pasar yang ditutup akibat demonstrasi.

“Perkiraan itu dilihat antara lain dari penurunan jumlah pengunjung, dan kerugian per kios,” tuturnya.

Berdasarkan data Kadin DKI Jakarta, jumlah kios di pusat perbelanjaan di Ibu Kota mencapai 80.000. Total perkiraan kerugian ditilik dari kerugian per kios yang mencapai Rp12,5 juta hingga Rp18,7 juta. Penurunan jumlah pengunjung mencapai 70%.

Pada Rabu (22/5), aksi demonstrasi yang berujung pada tindak kekerasan terjadi akibat massa yang tidak puas dengan hasil Pemilu 2019 yang diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Tindak kekerasan oleh massa terjadi di depan Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), kawasan Tanah Abang, hingga ruas Slipi Petamburan berpengaruh besar pada psikologi pasar di Jakarta.

Kejadian tersebut mendorong manajemen Perusahaan Umum Daerah (perumda) Pasar Jaya memutuskan untuk menutup Pasar Tanah Abang.

Sarman menjelaskan bahwa kerugian yang terjadi akibat tutupnya pusat grosir Tanah Abang mencapai Rp165 miliar.

“Jumlah kios di Tanah Abang mencapai 11.000 unit dengan estimasi omzet per kios per hari selama Ramadan mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Arief Nasrudin mengklaim bahwa kerugian yang timbul akibat tutupnya Pasar Tanah Abang mencapai Rp200 miliar per hari.

“Nilai ini berdasarkan transaksi harian yang biasa terjadi di Pasar Tanah Abang,” katanya.

Sarman mengungkapkan perkiraan kerugian tersebut belum termasuk perhitungan dari sektor lain seperti restoran, transaksi perbankan, dan pelaku usaha yang meliburkan karyawan akibat aksi tersebut.

Namun, seiring dengan makin kondusifnya situasi di Ibu Kota sejak pada Kamis (23/5), iklim bisnis dan perdagangan berangsur-ansur normal.

Hal ini ditambah dengan keputusan dari manajemen Perumda Pasar Jaya yang memutuskan untuk kembali membuka Pasar Tanah Abang pada Jumat (24/5).

MULAI KONDUSIF

Arief mengatakan, dibukanya kembali pusat grosir terbesar di Asia Tenggara ini agar pedagang tidak kehilangan momen untuk meraih keuntungan pada momen Ramadan.

“Ini momentum kami untuk menghadapi Lebaran. [Jumlah] Transaksinya akan lebih tinggi. Kami mengharapkan didukung masyarakat Tanah Abang untuk memastikan [kawasan ini] sebagai pusat perekonomian harus tetap dipertahankan dan dijaga,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan Bisnis, kondisi Pasar Tanah Abang Blok G serta kios-kios di atas jembatan penyeberangan multiguna (JPM) mulai normal. Pedagang kaki lima mulai banyak menggelar dagangan di kawasan tersebut.

Selain Pasar Tanah Abang, kegiatan bisnis dan perdagangan di mal-mal Jakarta juga mulai pulih.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan menjelaskan, jumlah pengunjung di sejumlah mal besar di Jakarta mulai pulih sejak Kamis.

“Buka puasa sudah mulai antre lagi, kendaraan masuk mal juga sudah antre banget,” ujarnya.

Dia mengatakan, rata-rata angka kunjungan di sejumah mal sempat menurun hingga 50% pada 21—22 Mei. Menurutnya, angka penurunan pengunjung di mal-mal kelas atas lebih tinggi dibandingkan dengan mal-mal kelas menengah.

Penurunan pengunjung yang lebih ekstrem terjadi di sejumlah mal yang terletak di Jakarta Pusat seperti Grand Indonesia dan Plaza Indonesia.

Public Relations PT Grand Indonesia Annisa Hazarini mengatakan bahwa pusat perbelanjaan yang berada dalam satu kawasan dengan Hotel Indonesia Kempinski ini cenderung sepi dibandingkan dengan biasanya.

Annisa mengungkapkan, rata-rata jumlah pengunjung di Grand Indonesia pada akhir pekan mencapai 65.000 hingga 70.000 orang.

“Pada high season seperti bulan Ramadan dan midnight sale, angka kunjungan bisa melonjak hingga 100.000 pengunjung,” katanya.

Sayangnya, Annisa enggan memberikan angka pasti dari penurunan transaksi dan jumlah pengunjung pada saat terjadi demonstrasi.

Sementara itu, Marketing Communications & Public Relations Manager Plaza Indonesia Tommy Utomo mengungkapkan, pihaknya sempat membuka mal pada Selasa (21/5) meskipun kemudian tutup pada pukul 14.00 WIB.

“Kami tutup semata-mata karena Thamrin tutup jadi membatasi akses pengunjung. Penyewa juga [memutuskan] tutup sehingga sekalian mal-nya kami tutup,” ujarnya.

Senada, Tommy mengaku tidak dapat memberikan keterangan berapa jumlah transaksi harian di Plaza Indonesia sebelum terjadinya aksi pada 21—22 Mei kemarin.

Tingginya kerugian ekonomi atas tutupnya beberapa pusat perbelanjaan di Ibu Kota seyogianya membangkitkan kesadaran bahwa ketika seseorang atau sekelompok golongan menuntut hak, ada kewajiban yang ditunaikan kepada anggota masyarakat lainnya.

Kerugian ekonomi tidak hanya dirasakan oleh sekelompok orang tetapi pada akhirnya akan dirasakan oleh seluruh rakyat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pasar tanah abang

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top