Fasilitasi Pejalan Kaki, Pemprov Gelontorkan Rp1,1 Triliun

Proyek pelebaran trotoar dan jembatan penyeberangan orang (JPO) di DKI Jakarta hingga tahun 2020 akan berfokus di sekitar fasilitas perhentian transportasi massal.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 27 Agustus 2019  |  15:37 WIB
Fasilitasi Pejalan Kaki, Pemprov Gelontorkan Rp1,1 Triliun
Kepala Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta Hari Nugroho - Bisnis/Aziz R

Bisnis.com, JAKARTA — Proyek pelebaran trotoar dan jembatan penyeberangan orang (JPO) di DKI Jakarta hingga tahun 2020 akan berfokus di sekitar fasilitas perhentian transportasi massal.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho menjelaskan bahwa proyek peningkatan fasilitas pejalan kaki ini merupakan salah satu bagian sesuai amanat Instruksi Gubernur No 66/2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara.

Harapannya, integrasi antarmoda transportasi massal tercapai, masyarakat semakin berminat menggunakan transportasi massal dan berjalan kaki, kemudian meninggalkan kendaraan pribadinya di rumah.

"Kita merencanakan dan mendesain tempat-tempat yang terintegrasi dengan Moda Raya Terpadu (MRT), Bus Rapid Transit (BRT), Lintas Rel Terpadu (LRT), Kerera Rel Listrik (KRL), dan lain-lain. Kita sudah petakan, dari dalam Ingub itu ada 25 ruas jalan protokol arteri maupun penghubung. Namun, kita siapkan ada 31 protokol arteti dan penghubung," ungkap Hari, Selasa (27/8/2019).

Hari menjelaskan lebih lanjut bahwa proyek ini telah dimulai sejak 2018, namun baru pada 2019 menjadi kegiatan strategis daerah dengan total anggaran mencapai Rp300 miliar.

Selain itu, mulai tahun ini ada standardisasi dalam pelaksanaan proyek, seperti lebar minimal trotoar 1,5 meter, memiliki tanaman hias dan penyerap polutan, dilengkapi ubin pemandu dan ramp landai untuk penyandang disabilitas, serta wajib memiliki pencahayaan optimal. (Lihat Tabel)

"Di 2020 kita merencanakan anggaran sekitar hampir Rp1,1 triliun. Itu karena agak banyak di Jalan MT Haryono, Jalan Gatot Subroto, Jalan Rasuna Said, dan Jalan Suprapto. Jadi akan kita kejar di 8 titik stasiun MRT yang terintegrasi," tambahnya.

Terutama, dari stasiun MRT Lebak Bulus hingga Stasiun MRT Setiabudi yang masih perlu revitalisasi dan pembenahan layanan. Selebihnya, Hari menjamin pihaknya akan meningkatkan pelayanan demi aksesibilitas masyarakat.

Oleh sebab itu, Hari menyebut pihaknya tengah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta untuk mengatasi masalah konsesi penyempitan jalan. Serta beberapa pengembang pelaksana proyek, seperti PT Holcim Indonesia Tbk., PT Sarana Anugerah Perdana, PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk., PT Karya Palmalindo Anugerah, PT Arta Niaga Nusantara, dan PT Bachtiar Marpa Prima.

Melengkapi penjelasan Hari, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Syafrin Liputo menjelaskan bahwa bukan hanya trotoar saja yang akan menjadi fokus integrasi transportasi. Pembangunan penghubung fisik antarmoda transportasi massal seperti JPO atau Sky Bridge pun akan berjalan beriringan.

"Di [Stasiun MRT] ASEAN itu kan sekarang sudah ada pedestrian bridge yang dibangun. Sedang dalam tahap memulai karena sudah selesai sayembara dan akan segera dibangun oleh PT Transjakarta. Jadi nanti dari Stasiun MRT ASEAN itu akan terhubung ke Halte CSW Transjakarta," ujar Syafrin.

Selain Halte CSW Koridor 13 dengan Stasiun MRT ASEAN Sisingamangaraja, beberapa integrasi fisik yang tengah digenjot Dishub DKI, yakni antara Halte Tosari dengan Stasiun MRT Dukuh Atas, Halte Lebak Bulus Koridor 8 dengan Stasiun MRT Lebak Bulus, serta Halte Cawang UKI dengan Stasiun LRT Cawang.

Sementara pembangunan JPO yang telah terlaksana, yakni JPO Sumarno dan JPO Jelambar, serta revitalisasi JPO Gelora Bung Karno, JPO Bundaran Senayan, dan JPO Polda Metro Jaya. Setelah itu, rencananya revitalisasi JPO Pasar Minggu dan JPO Daan Mogot akan menyusul.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menekankan bahwa pelebaran trotoar di 31 jalan ini bukan hanya sebagai langkah mengakomodir pejalan kaki atau integrasi transportasi semata, tetapi juga demi kelancaran lalu lintas.

"Di Jakarta itu luas jalannya terdiri dari dua sampai tiga lajur, jadi nggak konsisten, karena nggak konsisten jadi menimbulkan kemacetan. Misalnya ada satu tempat yang bisa tiga lajur, nanti kembali lagi dua kadang-kadang bisa jadi empat lalu jadi dua lagi. Dalam penataan itu sekarang disamakan. Karena kalau disamakan alirannya lebih baik. Seperti di Cikini tuh begitu," ungkap Anies, Selasa (27/8/2019).

Berikut tabel 31 ruas jalan yang akan terkena proyek pelebaran trotoar dan peningkatan fasilitas pejalan kaki:

Mulai Tahun 2020
Jl. RE Martadinata
Jl. TB Angke
Jl. Cideng Barat/Timur
Jl. IR H Juanda
Jl. Tomang Raya
Jl. Kebon Sirih
Jl. Arif R Hakim
Jl. Letjen Soeprapto
Jl. Kayu Putih dan Balap Sepeda
Jl. KH Mas Mansyur
Jl. Saharjo
Jl. Kasablanka
Jl. Rasuna Said
Jl. Dewi Sartika
Jl. Fatmawati
Jl. RA Kartini
Jl. Lebak Bulus Raya
Jl. Gatot Subroto
Jl. MT Haryono

Target Rampung 2019
Jl. Danau Sunter Utara
Jl. Yos Sudarso
Jl. Latumenten
Jl. Cikini Raya
Jl. Kramat & Salemba Raya
Jl. P Diponegoro
Jl. Matraman Raya
Jl. Otto Iskandar Dinata
Jl. Kemang Raya
Jl. Dr Satrio

Selesai 2018, Mendapat Pengembangan
Jl. Sisingamangaraja
Jl. Panglima Polim

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Trotoar

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top