Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Evaluasi PSBB DKI: Kasus Positif Melambat, Tes Covid-19 Masih Perlu Didorong

Selama 26 April sampai 10 Mei 2020, kasus positif tercatat bertambah 1.395 kasus atau naik 37,24 persen menjadi 5.140 orang. Angka tersebut melambat dari 15 hari sebelumnya.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 10 Mei 2020  |  19:50 WIB
Kendaraan melintas di Jalan Sudirman saat diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta, Senin (13/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Kendaraan melintas di Jalan Sudirman saat diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta, Senin (13/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di DKI Jakarta telah berlangsung selama 30 hari. Sejumlah indikator penyebaran Covid-19 telah turun lebih dari 50 persen, tapi pergerakan manusia di wilayah ibu kota masih menjadi ancaman.

Selama 26 April sampai 10 Mei 2020, kasus positif tercatat bertambah 1.395 kasus atau naik 37,24 persen menjadi 5.140 orang. Angka tersebut melambat dari 15 hari sebelumnya yakni bertambah 1.779 kasus atau naik 93,48 persen dari hari pertama PSBB.

Walaupun melambat, angka kasus positif di DKI Jakarta tetap melampaui angka psikologis 5.000. Angka tersebut dianggap sebagai batas lantaran Korea Selatan berhasil meniadakan kasus positif tambahan pada angka 5.000 kasus.

Setelah angka 5.000 kasus positif, pemerintah Korea Selatan berhasil mengurangi jumlah pasien atau orang yang terjangkit Covid-19. Dengan kata lain, usaha pemerintah Korkea Selatan untuk meratakan kurva persebaran Covid-19 (flattened the curve) berhasil.

Pemerintah Korea Selatan menyatakan keberhasilan tersebut disebabkan oleh gencarnya pengetesan Covid-19 ke masyarakat. Adapun, kapasitas pengetesan di Negeri Gingseng mencapai lebih dari 10.000 tes per hari.

Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan Park Neung-Hoo mengatakan penyebaran Covid-19 sangat cepat menyebabkan tes diagnosis awal sangat penting. Sekitar 80 persen pasien Covid-19 memiliki gejala ringan dan hanya 10 persen yang memiliki gejala berat.

"Oleh karena itu, sistem medis harus menyesuaikan pelayanan. Dengan kata lain, efisiensi alokasi sumber daya medis yang terbatas sangat penting," katanya kepada Times, Kamis (30/4/2020).

Adapun, pertumbuhan pengetesan di ibu kota justru turun sekitar 80 persen selama 15 hari terakhir. Hingga hari ini, Minggu (10/5/2020), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru melakukan tes sebanyak 87.014 tes atau sekitar 1.708 tes per hari.

Walaupun pengetesan Covid-19 melambat, pertumbuhan volume pasien dalam pengawasan (PDP) turut melambat. Seperti diketahui, PDP merupakan pasien yang memiliki gejala pengidap Covid-19 seperti demam, gangguan saluran pernapasan ringan maupun berat dan pernah berkontak langsung dengan pasien Covid-19.

Adapun, pada 15 hari pertama PSBB jumlah PDP bertambah 192,9 pasien per hari. Angka tersebut melambat pada 15 hari kedua PSBB menjadi 75,1 pasien atau melambat sekitar 83 persen dari 15 hari sebelumnya.

Akan tetapi, misi PSBB untuk membatasi mobilitas masyarakat terlihat belum berhasil. Pasalnya, jumlah orang dalam pantauan (ODP) pada 15 hari kedua PSBB lebih banyak dari 15 hari sebelumnya walaupun persentase penambahan tersebut melambat.

Persentase pertumbuhan volume ODP pada 15 hari kedua PSBB melambat sekitar 45 persen menjadi 70,44 persen dari realisasi persentase pertumbuhan ODP 15 hari PSBB pertama di level 217,51 persen.

Adapun, jumlah penambahan ODP selama 15 hari terakhir adalah 248,2 orang per hari. Sementara itu, 15 hari sebelumnya penambahan ODP per harinya hanya 201,7 orang per hari.

Penurunan jumlah kasus positif tersebut membantu meringankan sistem layanan kesehatan DKI Jakarta. Hal tersebut tercermin dalam perlambatan pertumbuhan volume pasien yang dirawat di rumah sakit maupun pasien dengan gejala ringan yang melakukan isolasi mandiri.

Selama 11 April hingga 25 April, jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit bertambah 791 orang atau naik 68,42 persen. Adapun, 15 hari terakhir persentase tersebut menurun menjadi naik 20,90 persen atau bertambah 408 pasien.

Dengan kata lain, pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit bertambah sekitar 52,7 pasien per hari selama 15 hari pertama PSBB. Adapun, pada 15 hari selanjutnya angka tersebut turun menjadi 27,2 pasien per hari.

Di samping itu, persentase pertumbuhan volume pasien yang melakukan isolasi mandiri juga melambat dari 138,09 persen selama 15 hari pertama menjadi 39,61 persen pada 15 hari selanjutnya.

Secara total, jumlah pasien yang melakukan isolasi mandiri bertambah 1.092 orang atau naik 247,61 orang selama 30 hari PSBB. Sementara itu, jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit bertambah 1.204 pasien atau naik sekitar dua kali lipat menjadi 2.360 orang.

Di sisi lain, pertumbuhan pasien sembuh berakselerasi sekitar 2 persen dari 135,21 persen pada 15 hari pertama PSBB menjadi 137,57 persen pada 15 hari kedua. Secara total, jumlah pasien yang sembuh bertambah 661 orang atau naik 465,49 persen selama PSBB berlangsung.

Persentase pertumbuhan pasien meninggal pun melambat menjadi 24,39 persen selama 15 hari terakhir dari 113,41 persen pada 15 hari pertama PSBB berlangsung. Adapun, total pasien Covid-19 yang meninggal saat ini sudah mencapai 444 orang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dki jakarta Virus Corona Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top