Wagub DKI Ajak Warga Segera Beralih Gunakan Air PAM

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau warga dan perusahaan di Ibu kota untuk tidak menggunakan air tanah.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 21 Maret 2018 20:37 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau warga dan perusahaan di Ibu kota untuk tidak menggunakan air tanah.

Seperti diketahui, penggunaan air yang diambil dari dalam permukaan tanah secara berlebihan dan terus-menerus dapat menimbulkan dampak negatif bagi keberlangsungan lingkungan.

Adapun contoh nyata yang terjadi beberapa tahun terakhir adalah penurunan kuantitas dan kualitas air tanah, serta penurunan ketinggian permukaan tanah yang ditandai dengan ruas jalan ambles ataupun miringnya gedung-gedung bertingkat.

Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta Sandiaga Uno mengajak masyarakat Jakarta untuk mulai meninggalkan pemakaian air tanah dan beralih ke perpipaan (air PAM).

Pernyataan tersebut disampaikan Sandi di kediamannya di Kebayoran, Jakarta Selatan, Rabu (21/3/2018).

Menurut Sandi, sebagai upaya awal warga dapat mulai meninggalkan penggunaan air tanah di rumah atau tempat tinggal masing-masing. Selain memang kualitas air tanah yang sudah buruk, kepedulian akan land subsidence menjadi pencetus ajakan ini.

"Mari kita berhenti memakai air tanah secara berlebihan dan mulailah menggunakan air perpipaan," kata Sandi dalam siaran pers, Rabu (21/3/2018).

Sementara itu, Direktur Utama PAM Jaya Erlan Hidayat menyatakan bahwa sikap Wakil Gubernur DKI Jakarta ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk tidak lagi menggunakan air tanah.

"PAM Jaya juga siap melayani warga yang akan beralih menggunakan air PAM" ujar Erlan.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, hanya 4,30 m3/detik imbuhan air hujan yang masuk ke dalam tanah. Angka ini tidak sebanding dengan pengambilan air tanah dangkal di wilayah DKI Jakarta sebesar 13,75 m3/detik.

Total jumlah air tanah dangkal (aquifer tidak tertekan) maksimum yang dapat diambil adalah sebesar 36,17 juta m3/tahun. Pengambilan air tanah dangkal yang berlebihan menyebabkan terjadinya intrusi air laut dan penurunan permukaan tanah.

Erlan menambahkan pemanfatan sumber daya air tanah di DKI Jakarta sudah melebihi daya dukungnya. Hal ini disebabkan belum terjangkaunya cakupan layanan jaringan air perpipaan dan belum terpenuhinya kualitas maupun kontinuitas ketersediaan air oleh penyelenggara penyediaan air perkotaan DKI Jakarta.

Selain itu, terbatasnya sumber daya air tawar di daratan pulau dan bertambahnya penduduk di pulau menyebabkan peningkatan konsumsi air tanah. Apabila penyedotan air tanah telah melebihi kapasitas air tanah untuk pulih maka akan terjadi intrusi air laut hingga sumber air setempat akan menjadi payau hingga asin.

Menurut data dari Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta pada Desember 2017, total pelanggan air tanah sebanyak 4.377 dengan perkiraan pemanfaatan air tanah sebesar 603.225 m3/bulan atau 7.23 juta m3/tahun.

Seperti diketahui, cakupan pelayanan air bersih mitra kerja PDAM baru mencapai 577.109 juta m3/tahun (60,27%), dengan pelanggan air tanah yang mengonsumsi air sebanyak 8,850 juta m3/tahun.

Perkiraan kebutuhan air bersih pada 2030 adalah sebesar 1.032,6 juta m3/tahun. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengendalikan pemakaian air tanah agar lingkungan dapat tetap terjaga untuk generasi yang akan datang.

Tag : pemprov dki, air tanah
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top