Kendati Menuai Pro-Kontra, Kebijakan Ganjil-Genap Terus Berjalan

GUbernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai penerapan sistem ganjil-genap dalam menghadapi event olahraga terbesar se-Asia mengadaptasi kesuksesan Beijing, China dan Korea Selatan mengurai kemacetan.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 03 Juli 2018 18:47 WIB
Petugas Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) melakukan sosialisasi kepada pengguna kendaraan bermotor pada hari pertama uji coba perluasan kawasan ganjil genap di persimpangan Pancoran, Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTAR/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA -- GUbernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai penerapan sistem ganjil-genap dalam menghadapi event olahraga terbesar se-Asia mengadaptasi kesuksesan Beijing, China dan Korea Selatan mengurai kemacetan.

Uji coba ganjil-genap yang telah berjalan selama dua hari sejak masa berlakunya pada 2 Juli 2018 lalu mendapatkan respon dari masyarakat. Pihak yang pro kebijakan ini menilai bahwa langkah tersebut dapat membuat warga Ibu Kota lebih sadar menggunakan alat transportasi umum.

Akan tetapi, pihak yang kontra menyayangkan bahwa penerapan ganjil-genap tidak efektif karena pemilik kendaraan pribadi masih bisa memutar jalan supaya tidak melanggar peraturan ini. Bahkan, pengusaha angkat bicara, mereka khawatir bila pendapatannya berkurang akibat aturan tersebut.

Kendati demikian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menilai kebijakan ini tetap harus dilaksanakan. Hal ini terkait dengan nama baik Indonesia di mata seluruh dunia. Namun, Pemprov DKI tidak menutup diri atas saran dan kritik yang diberikan oleh warga.

"Kalau baru satu hari [sampai dengan] dua hari masih terlalu dini untuk kita menyimpulkan. Kita akan lihat evaluasi terlebih dahulu," kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan di Balaikota, Jakarta Pusat, Selasa (3/7/2018).

Dia mengatakan bahwa inisiatif penerapan sistem ganjil-genap ini tidak hanya datang dari Pemprov DKI Jakarta, namun juga melibatkan pemerintah pusat semisal Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan pihak penyelenggara Asian Games 2018 Organizing Comittee (INASGOC). Semua pemangku kepentingan berupaya untuk memenuhi rekomendasi dari Olympic Council of Asia (OCA).

OCA mengimbau pemangku kepentingan di Tanah Air untuk bisa mengatur lalu lintas agar para atlet tidak terlambat menuju venue pertandingan. Selain itu, rekomendasi dari OCA berupa pihak penyelenggara dan pemerintah dapat menjamin kualitas udara di sekitar venue agar lebih baik.

"Ganjil-genap ini bukan pertama kalinya, [beberapa tahun lalu] di Beijing menerapkan ganjil-genap. Bahkan sempat diteruskan agak panjang dan terbukti dapat menurunkan polusi hingga sebesar 20%. Korea Selatan juga pada saat [Piala Dunia] 2002 melakukan kebijakan yang sama," ujarnya.

Anies tidak membantah bila sistem ganjil-genap memiliki dampak kepada masyarakat. Menurutnya, sistem ganjil-genap ini ibarat bayi yang baru tumbuh gigi. "Awalnya sakit, nantinya enak," jelasnya.

Dia juga berharap bahwa penerapan ganjil-genap ini menjadi pemicu warga Jakarta agar beralih ke transportasi massal. "Kami berharap ini jadi momentum untuk kita mengatur penggunaan kendaraan [agar] lebih efesien," ungkapnya.

Seperti diketahui, Beijing mulai berbenah terkait masalah transportasi sejak perhelatan Olimpiade Musim Panas 2008. Terpilih sebagai tuan rumah, Beijing terpicu untuk menerapkan sistem ganjil-genap untuk mengurai kemacetan di kota tersebut.

Kebijakan ini dipilih karena kesadaran masyarakat untuk menggunakan transportasi umum saat itu dianggap kurang sehingga kendaraan pribadi penuh sesak di jalanan.

Pengamat transportasi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Djoko Setijowarnoa, mengatakan sistem ganjil-genap di Beijing lebih ketat dibandingkan dengan Tanah Air.

"Misalnya, untuk Senin berlaku nomor plat kendaraan ganjil 9 dan 1 [diperbolehkan mengakses jalan]. Selasa berlaku nomor genap, yaitu 8 dan 2. Rabu berlaku nomor ganjil, yaitu 7 dan 3. Kamis berlaku nomor genap, yakni 6 dan 4. Jumat berlaku nomor 5 dan 0, sedangkan Sabtu dan Minggu tidak berlaku kebijakan ganjil genap," kata Djoko beberapa waktu lalu.

Selain itu, selama ajang olahraga di Beijing ini berlangsung tarif transportasi seperti bus dan kereta turun drastis dengan masing-masing biaya senilai 1 yuan atau Rp2.000 (bus) dan 2 yuan atau Rp4.000 (kereta).

Tarif parkir naik sekitar 20-40 kali dibandingkan dengan tarif transportasi umum, sepeda motor dilarang masuk kawasan khusus kecuali pukul 24.00--06.00.

"Kebijakan ini terbukti ampuh mengubah mindset masyarakat Beijing karena mereka sendiri dapat merasakan langsung perubahannya," ungkapnya.

Tag : pemprov dki, ganjil genap
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top