Sudetan Hingga Normalisasi, Ini Progres 3 Proyek Prioritas Penanganan Kali Ciliwung

Sungai Ciliwung, sebagai urat nadi aliran sungai dari Bogor ke Laut Jawa, kerap dijuluki biang banjir tahunan di Ibu Kota. Berbagai proyek pun digelar pemerintah pusat dan daerah, agar julukan itu hilang. Minimal berkurang.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 18 Januari 2020  |  15:50 WIB
Sudetan Hingga Normalisasi, Ini Progres 3 Proyek Prioritas Penanganan Kali Ciliwung
Seorang warga berada di atas jembatan Sungai Ciliwung yang meluap dan banjir menggenangi kawasan Pasar Baru di Jakarta Pusat, Kamis (2/1/2020). - ANTARA /M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Sungai Ciliwung, sebagai urat nadi aliran sungai dari Bogor ke Laut Jawa, kerap dijuluki biang banjir tahunan di Ibu Kota. Berbagai proyek pun digelar pemerintah pusat dan daerah, agar julukan itu hilang. Minimal berkurang.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bambang Hidayah menjelaskan setidaknya 3 dari 6 proyek utama telah rampung.

Tiga proyek yang rampung tersebut, yakni penambahan Pintu Air Manggarai dari dua pintu menjadi tiga pintu, penambahan Pintu Air Karet dari empat pintu ke lima pintu, dan peningkatan kapasitas Sungai Ciliwung lama.

Kini, pembebasan lahan jadi kendala utama tiga proyek lain yang masih diupayakan. Berikut progres masing-masing dari penanganan Sungai Ciliwung:

Dua Bendungan

Nama Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi tiba-tiba mencuat selepas Ibu Kota dilanda banjir pada awal 2020. Target realisasi proyek yang ditangani pemerintah pusat ini menjadi sorotan.

Bambang menjelaskan bahwa Bendungan Ciawi bakal berkapasitas tampung 6,45 juta m3, sementara Bendungan Sukamahi berkapasitas tampung 1,68 juta m3.

Dua bendungan ini diharapkan mampu mereduksi banjir ±126 m3/detik. Dari Ciawi 111,75 m3/detik sementara Sukamahi 15,47 m3/detik.

"Progres Bendungan Sukamahi 35 persen, Ciawi 45 persen, direncanakan selesai pada akhir 2020. Pembebasan lahan progres 95 persen dahulunya oleh [Pemprov] DKI, namun pada waktu Pilkada mengalami keterlambatan sehingga diambil alih pemerintah pusat," ujarnya ketika dikonfirmasi Bisnis, Sabtu (18/1/2019).

Normalisasi Sungai

Pelebaran Sungai Ciliwung lewat Normalisasi Sungai pun terkendala pembebasan lahan. Sebelumnya, proyek ini direncanakan terselenggara sepanjang 33 km, yang diharapkan bisa menambah kapasitas air sepanjang sungai hingga 570 m3/detik.

"Saat ini sudah selesai 16 km, sisanya 17 km menunggu pembebasan lahan oleh Pemda DKI sehingga debit yang bisa dialirkan ±300 m3/detik," tambahnya.

Sudetan Ciliwung

Proyek ini sempat menjadi polemik akibat gugatan class action warga Bidara Cina, yang terdampak proyek sudetan dari Bidara Cina sampai dengan Banjir Kanal Timur (BKT) sepanjang 1260 m ini.

"Kapasitas 60 m3/detik mengalirkan air Ciliwung ke BKT atau Sungai Cipinang untuk mengurangi beban Sungai Ciliwung antara Bidara Cina sampai dengan Pintu Air Manggarai untuk mengamankan kawasan Jatinegara, Bukit Duri, Tanah Abang, Senen, Istana," jelas Bambang.

Kini, progresnya baru 54 persen atau 620 meter. Terkendara pembebasan lahan di inletnya, Bidara Cina. Gugatan class action telah berkekuatan hukum tetap memutuskan bahwa pemerintah harus mengganti rugi lahan warga terdampak.

BBWSCC pun menyediakan anggaran hingga Rp60 miliar untuk pengadaan tanah. Belum termasuk anggaran pembangunannya.

Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta terus berprogres menelurkan keputusan pendukung proyek ini.

Antara lain Kepgub 224/2019 tentang penetapan lokasi (Penlok) kawasan outlet sudetan di Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Kepgub 225/2019 tentang Penlok inlet sudetan di Kelurahan Bidara Cina, Kepgub 226/2019 tentang Penlok pembangunan sudetan, dan Kepgub 1744/2019 tentang tim persiapan pengadaan tanah Sudetan Ciliwung.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sungai ciliwung, Banjir Jakarta

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top