Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jakarta Kota Termacet di Dunia, Pengamat: Anies Belum Bawa Perubahan Signifikan

Walaupun Jakarta berhasil memperbaiki peringkat Kota Termacet di Dunia dari peringkat 7 ke peringkat 10 pada 2019, tingkat kemacetan Jakarta tetap tak berubah.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 30 Januari 2020  |  18:15 WIB
Kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Mampang Prapatan Raya, Jakarta, Senin (23/10). - ANTARA/Aprillio Akbar
Kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Mampang Prapatan Raya, Jakarta, Senin (23/10). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA - Walaupun Jakarta berhasil memperbaiki peringkat Kota Termacet di Dunia dari peringkat 7 ke peringkat 10 pada 2019, tingkat kemacetan Jakarta tetap tak berubah.

Sebelumnya, hal ini diungkap oleh TomTom, perusahaan teknologi navigasi asal Belanda yang meneliti indeks kemacetan pada 416 kota di 57 negara.

Jakarta kini menempati posisi 10 di bawah Bengaluru, Manila, Bogota, Mumbai, Pune, Moscow, Lima, New Delhi, dan Istanbul. Namun, Jakarta tercatat masih memiliki tingkat kemacetan 53 persen. Tak ada perubahan dari tahun sebelumnya.

Analis Kebijakan Transportasi dan Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) Azas Tigor Nainggolan menilai hal ini perlu menjadi evaluasi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Menurutnya, Anies jangan hanya melihat ranking saja, tetapi juga berapa pencapaian progres pengurangan kemacetan di Jakarta.

"Walaupun peringkat [Jakarta] makin baik, tapi setelah dilihat lagi ternyata kemacetan Jakarta tidak berkurang. Stuck saja. Tidak naik, tidak turun," ujarnya, Kamis (30/1/2019).

Menurut Tigor, yang masih kurang dari Pemprov DKI adalah kebijakan push atau pendorong masyarakat menggunakan transportasi publik.

"Ini harus jadi evaluasi buat Pemprov DKI. Infrastruktur MRT dan Transjakarta yang makin masif, kenapa tetap tidak bisa menekan kemacetan versi TomTom? Berarti kebijakan untuk menekan [push] kendaraan pribadi itu yang kurang," ujarnya.

Menurut Tigor, pembanguanan infrastruktur untuk transportasi di Jakarta terbilang masif dan patut diapresiasi. Namun, Tigor berpendapat kemacetan tetap akan sama apabila kendaraan pribadi tidak ditekan.

"Artinya, klaim penghargaan-penghargaan tentang transportasi yang selama ini diterima Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu patut dipertanyakan. Buktinya sampai sekarang masih belum bisa juga menekan penggunaan kendaraan pribadi," ungkap Tigor.

"Jadi sangat disayangkan, Anies selama satu tahun ini belum membawa perubahan signifikan. Harus ada evaluasi dari dalam. Karena kalau saya lihat pembanguanan infrastruktur buat transportasi di Jakarta terbilang masif," tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anies baswedan kemacetan jakarta
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top