Buruh Mogok Kerja, Pengusaha DKI Tekor Rp500 Miliar

Kalangan pengusaha mengestimasi kerugian materi dari aksi mogok yang dilakukan buruh di beberapa pusat industri di sekitar Ibu Kota mencapai Rp500 miliarnn
Ribuan buruh dari berbagai aliansi se-Jabodetabek melakukan 'longmarch' di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (30/10)./Antara
Ribuan buruh dari berbagai aliansi se-Jabodetabek melakukan 'longmarch' di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (30/10)./Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Kalangan pengusaha mengestimasi kerugian materi dari aksi mogok yang dilakukan buruh di beberapa pusat industri di sekitar Ibu Kota mencapai Rp500 miliar.

Wakil Ketua Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan para buruh sebaiknya mengedepankan dialog atau jalur hukum ketimbang melaksanakan aksi berhenti kerja di pabrik.

"Kami memperkirakan setiap pabrik bisa mengalami kerugian sekitar Rp3miliar-Rp 5miliarsetiap hari. Walaupun belum mendapatkan angka pasti, kerugian dunia usaha diperkirakan mencapai Rp 500 miliar akibat aksi mogok ini," ujarnya di Jakarta, Jumat (27/11/2015).

Dia memaparkan aksi mogok buruh tersebut merupakan bagian dari penolakan pekerja terhadap PP No 78/2015 tentang pengupahan yang dirasa tak sesuai dengan kebutuhan para pekerja saat ini.

Aksi mogok pekerja yang ada di Jakarta dan sekitarnya dipusatkan di beberapa kawasan industri, a.l. di kawasan JIEP Pulagadung, KBN Cakung dan Marunda, Indo Taise, hingga di daerah Karawang.

Menurutnya, hal ini memberi dampak negatif yang cukup besar besar bagi pengusaha pengusaha. Sarman memberi contoh salah satu pabrik di KBN Cakung bisa memproduksi sekitar 70 ribu item barang per hari. Jika harga setiap item berkisar US$5 saja maka kerugian bisa mencapai Rp4,5 miliar.

Sementara itu, lanjutnya, di kawasan Karawang produksi menurun sekitar 20% karena pengusaha harus merelakan sekitar 50-100 orang pekerja untuk mengikuti aksi mogok untuk menghindari sweeping dari serikat pekerja.

"Ada juga pabrik yang tutup tidak berproduksi dan akan digantikan dengan hari libur sabtu dan minggu. Ini kan jadi tidak efisien," imbuhnya.

Sarman meminta kalangan buruh mengubah paradigma berpikir untuk mengungkapkan pendapat. Pasalnya, pabrik itu adalah ladang buruh tempat mencari penghidupan. Jika buruhnya diajak mogok maka roduksi dan pendapatan perusahan menurun.

Dia mengatakan ntuk menyikapi sebuah kebijakan yang dianggap tidak menguntungkan buruh tidak selalu dengan mogok atau demo, tetapi mengedepankan dialog atau jalur hukum.

"Itu akan lebih elegan dan tidak merugikan pelaku usaha. Buruh juga tetap digaji karena kami bisa produksi. Kalau mogok di pabrik, kami dapatkan uang untuk menggaji pekerja dari mana?" katanya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper