Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ciliwung Meluap, 34 RT Terendam Banjir

Banjir itu disebabkan karena curah hujan yang tinggi dan luapan Kali Ciliwung.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 07 Desember 2020  |  09:31 WIB
Dokumentasi - Petugas dari Kelurahan Kampung Melayu meninjau dampak banjir yang melanda RW04 Kebon Pala, Jakarta Timur, akibat luapan Kali Ciliwung, Senin (5/10/2020). - Antara
Dokumentasi - Petugas dari Kelurahan Kampung Melayu meninjau dampak banjir yang melanda RW04 Kebon Pala, Jakarta Timur, akibat luapan Kali Ciliwung, Senin (5/10/2020). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat terdapat 34 Rukun Tetangga (RT) yang terendam di wilayah Jakarta Selatan dan Timur setelah hujan lebat mengguyur dua kawasan itu sejak Minggu (6/12/2020) malam.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta M Insaf menerangkan banjir itu disebabkan karena curah hujan yang tinggi dan luapan Kali Ciliwung.

“Ketinggian air mulai dari 10 hingga 80 sentimeter,” kata Insaf melalui keterangan tertulis pada Senin (7/12/2020).

Berdasarkan daya yang dihimpun BPBD, terdapat 4 RT yang terendam banjir di wilayah Jakarta selatan yang tersebar di Kelurahan Pejaten Timur.

Sisanya, 30 RT terendam di wilayah Jakarta Timur yang tersebar di Kelurahan Kampung Melayu, Kelurahan Bidara Cina dan Kelurahan Cawang.

Kendati demikian, dia memastikan, tidak ada jalan yang tergenang akibat curah hujan tinggi kemarin.

“Tidak ada jalan yang tergenang,” katanya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi peningkatan curah hujan sepekan mendatang.

"Hasil analisis terkini BMKG menunjukkan bahwa terdapat potensi peningkatan pertumbuhan awan-awan hujan di atas wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan," kata Deputi Bidang Meteorologi Guswanto dalam rilis yang diterima di Jakarta, Sabtu (5/12/2020).

Peningkatan potensi pertumbuhan awan tersebut dapat disebabkan oleh kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil.

Selain itu, juga akibat aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin di wilayah Indonesia.

Serta, pusaran angin (sirkulasi siklonik) yang terpantau di beberapa tempat yang dapat mendorong terbentuknya daerah pertemuan atau perlambatan kecepatan angin (konvergensi).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ciliwung jakarta banjir
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top