Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Viral Rekaman Kadernya saat Rapat, PSI Tolak Kenaikan Anggaran Tak Esensial DKI

Potongan suara anggota PSI dalam rapat anggaran beredar di medsos. PSI menegaskan potongan rekaman itu tidak mencerminkan substansi rapat.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 26 Desember 2020  |  14:45 WIB
DPRD DKI - beritajakarta.com
DPRD DKI - beritajakarta.com

Bisnis.com, JAKARTA - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DKI Jakarta menegaskan bahwa dalam pembahasan anggaran, fraksi tegas menyatakan menolak kenaikan anggaran-anggaran tidak esensial di tengah pandemi Covid-19.

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia, William Aditya Sarana mengungkap hal ini menyikapi beredarnya potongan-potongan rekaman suaranya di media sosial.

"Sikap PSI sudah bulat menolak kenaikan anggaran tidak esensial. Saya menyayangkan rekaman tersebut hanya potongan diskusi rapat, bukan merupakan diskusi yang utuh. Saya minta dibuka lengkap semua rekaman rapat-rapat kita dari awal sampai akhir, bukan penggalan kalimat tanpa konteks dan substansi," ungkapnya dalam keterangan resmi PSI, Sabtu (26/12/2020).

William menilai potongan suara tersebut tidak mencerminkan substansi rapat. Rekaman tersebut dipotong-potong dan bukan merupakan diskusi yang utuh.

PSI pun mendorong agar seluruh rapat di DPRD direkam dan dibuka ke publik agar masyarakat mengetahui proses dan substansi seluruh pembahasan anggaran.

PSI pun menyesalkan hingga saat ini, Pemprov DKI sama sekali belum membuka isi final detail anggaran yang sudah diketok tiga minggu silam.

William menjelaskan konteks kalimat yang disampaikan mengenai kenaikan dana banpol adalah menanggapi rekomendasi kebijakan dari KPK dan LIPI, bahwa pendanaan pemerintah untuk partai politik diperlukan untuk memperkuat demokrasi dan menekan korupsi oleh para pejabat publik dari partai politik.

"Konteksnya adalah saya sudah mempelajari dan menyampaikan rekomendasi KPK dan LIPI bahwa partai politik harus memiliki keuangan yang sehat untuk beroperasi, dengan demikian potensi korupsi politik dapat ditekan. Inilah semangatnya. Semangat baik untuk sehatnya kualitas demokrasi kita," kata William.

Namun, mengingat saat ini Jakarta masih dalam kondisi pandemi dan kesulitan ekonomi, pembahasan kenaikan pendanaan partai politik oleh pemerintah 'public funding' menjadi tidak relevan.

William mengingatkan kembali bahwa pada prinsipnya sikap akhir PSI mengenai APBD adalah yang dibacakan secara formal dan tertulis di Pandangan Umum Fraksi pada Sidang Paripurna DPRD DKI Jakarta tanggal 27 November 2020.

"Sesuai dengan rekomendasi KPK dan LIPI 'public funding' itu perlu cuman masalah timing saja, pantas atau tidak? Karena melihat konteks yang tidak relevan maka pada Pandangan Umum itu PSI tidak mendorong kenaikan dana Banpol. Malah kami menegaskan untuk memangkas kegiatan-kegiatan yang tidak relevan seperti kenaikan RKT ratusan miliar yang sempat diusulkan. Itu sudah clear sikap Partai dan Fraksi kami," kata William.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anggaran dki jakarta Pemprov DKI dprd dki partai solidaritas indonesia
Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top